Implementasi Pemberdayaan Guru Melalui Program Lesson Studi Dalam Upaya Peningkatan Hasil Belajar Matematika

Andi Rusdi

Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas berbasis Lesson study MGMP yang pelaksanaannya dirancang dalam dua siklus. Rancangan untuk tiap siklus terdiri dari tiga tahapan, yaitu: (1) plan (tahap perencanaan), (2) do (tahap pelaksanaan) dan (3) see (tahap refleksi). Subjek dari penelitian ini adalah guru-guru Matematika SMP/MTs di Kota Parepare, serta Siswa SMP Negeri 3 Parepare dan SMP Negeri 6 Parepare. Tujuan utama dari penelitian ini adalah (1) Memberdayakan guru matematika dalam program lesson study. (2) Meningkatkan hasil belajar matematika siswa. (3) Mengetahui deskripsi tanggapan siswa dan guru terhadap lesson study yang diimplementasikan. Data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan melalui tes hasil belajar, dan data tentang tanggapan siswa dan guru terhadap program lesson study dikumpulkan melalui angket. Selanjutnya data yang dikumpul dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) impelementasi pemberdayaan guru dalam program lesson study berjalan sesuai dengan perencanaan, (2) impelementasi program lesson study dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa, dan (3) impelementasi pemberdayaan guru melalui program lesson study mendapat tanggapan yang positif bagi siswa dan guru peserta lesson study.

Kata kunci: lesson study, implementasi.

Perubahan zaman saat ini, khususnya abad XXI atau lebih tepat dinamakan abad ilmu pengetahuan, semua orang dituntut untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan sehingga dapat menguasai teknologi dan dapat beradaptasi dengan keadaannya, hal ini menjadi suatu tantangan yang harus dihadapi khususnya dalam upaya mencerdaskan bangsa.

Dunia pendidikan di Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan. Tantangan pertama, sebagai akibat krisis ekonomi, dunia pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua,untuk mengantisipasi era globalisasi, dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten agar mampu  bersaing dalam pasar global. Ketiga, dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka kebijakan pendidikan perlu memperhatikan keberagaman dan potensi daerah, peserta didik, partisipasi peserta didik, dan partisipasi masyarakat. Keempat, kenyataan akan rendahnya mutu pendidikan.

Untuk keperluan tersebut, upaya peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh yang mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya. Salah satu hal yang penting dan mendasar menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari adalah matematika.

Matematika mempunyai fungsi penting, bahkan sains dan teknologi didasarkan pada matematika. Demikian pentingnya peranan matematika, sehingga matematika diajarkan di sekolah mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Menyadari peranannya yang sangat penting dalam berbagai aspek maka pendidikan matematika perlu pengantisipasi masa depan yang semakin rumit dan kompleks, karena itulah pendidikan matematika harus mampu membekali peserta didik dengan keterampilan dan kemampuan untuk dapat menjawab permasalahan baik sekarang maupun dimasa mendatang

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 (Tim, 2008) tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, berkemampuan komunikasi sosial, tertib, sadar hukum, kooperatif, kompetitif, serta dapat menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pengembangan kompetensi tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup (life skill) yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil di masa mendatang. Profil luaran yang diharapkan tercapai melalui proses pendidikan adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia dengan kompetensi kecerdasan yang utuh, baik kecerdasan intelektual, emosional, maupun spiritual.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya peningkatan mutu guru yang berimbas pula pada upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penataran atau pelatihan. Namun upaya pemerintah ini kurang memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan mutu guru. Kurang berhasilnya upaya peningkatan mutu guru melalui penataran dan atau pelatihan disebabkan oleh dua hal pokok, yaitu (1) penataran dan pelatihan dilakukan tidak berbasis pada permasalahan nyata di kelas, dan (2) hasil penataran dan pelatihan hanya menjadi pengetahuan saja, tidak diterapkan secara berkelanjutan di dalam kelas. Setelah selesai penataran dan/pelatihan, guru kembali mengajar dengan pola atau strategi sebelumnya.

Dalam upaya mengatasi kelemahan penataran dan/atau pelatihan konvensional yang kurang member tekanan pada pasca pelatihan, maka lesson study merupakan salah satu strategi model atau strategi in-service training  yang lebih berfokus pada upaya pemberdayaan guru sesuai dengan kapasitas serta permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing guru. Sehubungan dengan hal itu, maka penelitian ini menitikberatkan bagaimana implementasi pemberdayaan guru melalui program lesson study dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika SMP khususnya di Kota Parepare.

Hakikat Lesson Study

Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan  akan muncul dan orang pun tak akan berhenti-hentinya untuk terus membincangkan dan memperdebatkan tentang keberadaanya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafiah sampai hal-hal yang sifatnya teknis-operasional. Dalam hal ini  Lesson Study tampaknya dapat dijadikan salah satu alternative guna mengatasi masalah praktik pembelajaran selama ini dipandang kurang efektif.

Konsep dan praktik Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang  dalam bahasa jepang disebut istilah Kenkyuu Jugyo. Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan kenkyu Jugyo dijepang. Menurut slamet mulyana (dalam Sudrajat, 2008:1) menyatakan bahwa Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.

Sedangkan (Sudrajat, 2008:1)  menyatakan Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru.

Berdasarkan uraian diatas penulis menyimpulkan bahwa Lesson Study merupakan suatu proses pembelajaran yang dilakukan dengan melibatkan beberapa guru dalam pelaksanaannya secara kolaboratif dan berkesinambungan dalam melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial

Tujuan Lesson Study

Bill Cerbin dan Bryan Kopp (dalam Sudrajat, 2008:2) mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki empat (empat) tujuan utama yaitu : (1) Memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar, (2) Memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, diluar peserta Lesson Study, (3) Meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif, dan (4) Membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.

Ciri-ciri Lesson Study

Berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah dijepang, Catherine Lewis (dalam  Sudrajat, 2008:2) mengemukakan tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yaitu: (1)  Tujuan bersama untuk jangka panjang, (2) Materi pelajaran yang penting, (3) Studi tentang siswa secara cermat dan (4) Observasi pembelajaran secara langsung

Manfaat Lesson Study bagi guru

Menurut Caterine Lewis (dalam Sudrajat, 2008:3) beberapa manfaat dari Lesson Study yaitu: (1)  Guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) Guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, (3) Guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study

Tipe penyelenggaraan Lesson Study

Menurut Slamet Mulyana (dalam  Mutaqin,2009:2) mengemukakan dua tipe penyelenggaraan Lesson Study, yaitu :

Lesson Study berbasis sekolah

Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan, dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran disekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan.

Lesson Study berbasis MGMP

Lesson Study berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dilkasnakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi

Tahapan-tahapan Lesson Study

Menurut Slamet Mulyana (dalam  Sudrajat, 2008:4) mengemukakan tahapan dalam penyelenggaraan Lesson Study, yaitu:

Tahapan Perencanaan (Plan)

Dalam tahapan perencanaan, para guru yang bergabung dalam Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat diketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran langsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.

Tahapan Pelaksanaan (do)

Dalam tahapan pelaksanaan, beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya:

  1. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama
  2. Siswa diupayakan dapat menjalin proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.
  3. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.
  4. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama
  5. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevaluasi guru .
  6. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran
  7. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP.

Tahapan Refleksi (see)

Dalam tahapan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipanu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun. Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-sarannya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.

Metode Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah siswa Kelas VII, VIII dan XI di dua sekolah SMP Negeri 6 dan SMP Negeri 3 Parepare, serta semua guru matematika SMP yang aktif MGMP. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 (dua) bulan yaitu bulan September-Oktoberr 2011.

Penelitian ini merupakan gabungan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan Lesson Studi. Kegiatan tersebut meliputi: (1) plan (persiapan), (2) Do (Pelaksanaan dan Pengamatan), (3) See (Refleksi). Penelitian dirancang dalam dua siklus., masing-masing siklus mengikuti tahapan lesson study.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, dan teknik observasi.  Teknik tes digunakan untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar siswa yang diberikan pada setiap akhir siklus, sedangkan teknik observasi digunakan untuk memperoleh data keadaan/aktivitas siswa selama tindakan.

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. untuk mengetahui kategori hasil belajar matematika siswa menggunakan norma absolut skala lima (Nurkancana, 1990:93) yaitu: tingkat penguasaan 90% – 100% dikategorikan “sangat tinggi”, tingkat penguasaan 80% – 89% dikategorikan “tinggi”, tingkat penguasaan 65% – 79% dikategorikan “sedang”, tingkat penguasaan 55% – 64% dikategorikan “rendah”, tingkat penguasaan 0% – 54% dikategorikan “sangat rendah”.

Secara keseluruhan penelitian ini dikatakan berhasil jika hasil belajar matematika dan prosentase ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan, disamping itu meningkatnya aktivitas positif siswa selama mengikuti proses belajar mengajar.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Hasil belajar siswa dalam penelitian ini diukur melalui teknik tes. Dari hasil analisis data diperoleh rata-rata skor hasil belajar pada Siklus I sebesar 72,43 yang tergolong sedang. Selanjutnya, diperoleh rata-rata skor hasil belajar siswa pada Siklus II sebesar 86,93 tergolong tinggi.

Berdasarkan hasil analisis aktivitas siswa diperoleh rata-rata aktivitas siswa dari Siklus I ke Siklus II mengalami peningkatan secara signifikan, Selanjutnya, dari criteria yang ditetapkan sebelumnya, ternyata respon siswa dan guru terhadap implementasi pemberdayaan guru dalam lesson study tergolong baik.

 

Pembahasan

Implementasi kegiatan lesson study  dilaksanakan di dua sekolah yaitu SMP Negeri 6 Parepare dan SMP Negeri 3 Parepare, penentuan lokasi penelitian dimaksudkan agar kondisi pembelajaran tidak hanya terfokus pada satu sekolah saja, sehingga siswa dan guru disekolah tersebut dapat merasakan kegiatan tersebut.

Berdasarkan pantauan peneliti terlihat bahwa antuasiasme guru dalam melaksanakan lesson study,  namun demikian pada Siklus I masih terdapat kendala antara lain: (1) Observer ataupun guru model belum siap melaksanakan lesson study terbukti masih ada observer yang terlambat datang, (2) Guru model belum menguasai RPP yang telah dibuat, (3) Guru model belum memahami penggunaan media visual powerpoint, (4) Observer terkadang membantu siswa yang mengalami kesulitan.

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I tindakan yang dilakukan pada Siklus II  tindakan pada Siklus II merupakan penyempurnaan dan perbaikan terhadap kendala-kendala yang muncul pada siklus I. Hasil refleksi tersebut antara lain: (1) penyesuaian jadwal lesson study dengan jadwa mengajar guru yang menjadi observer, (2) Memberikan arahan tujuan utama lesson study, (3)  Guru model diharapkan mempersiapkan media powerpoint sebelum mengajar atau dapat berkonsultasi dengan guru yang lebih senior.

Sementara itu hasil analisis data menunjukkan bahwa, tindakan yang dilakukan pada siklus I cukup berhasil meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa, yakni 72,43 yang tergolong sedang. Berdasarkan hasil penelitian tindakan Siklus I ini, tim peneliti melakukan diskusi untuk mencermati keunggulan-keunggulan yang perlu dipertahankan dan dikembangkan serta mengkaji kendala-kendala yang menjadi penyebab kurang berhasilnya pembelajaran yang dilaksanakan. Dari hasil diskusi ini dapat disimpulkan bahwa kurang berhasilnya pembelajaran yang dilakukan pada Siklus I adalah disebabkan oleh beberapa faktor.  Pertama, pada siklus I ini siswa belum terbiasa dan belum mempunyai pengalaman dengan pembelajaran media visual, ditambah lagi adanya beberapa guru yang memantau aktivitas mereka, sehingga awal pembelajaran situasi kelas fakum, kedua, masih rendahnya motivasi siswa untuk belajar hal ini terlihat dari masih banyaknya siswa yang malas mengerjakan tugas-tugas yang tertuang dalam LKS. Hal ini kemungkinan dikarenakan siswa kurang memperhatikan petunjuk pengerjaan LKS, bahwa pada setiap akhir pengerjaan LKS diadakan tes, akibatnya banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menjawab soal-soal evaluasi yang terdapat dalam LKS. Ketiga, pada saat pelaksanaan tindakan siklus I terdapat beberapa orang siswa yang sudah selesai mengerjakan soal-soal latihan mengganggu temannya yang sedang bekerja sehingga mengganggu proses belajar mengajar. Keempat, dalam diskusi dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, hanya beberapa siswa yang mau mengemukakan pendapat atau menjawab. Hal ini disebabkan oleh kurang beraninya atau kurangnya percaya diri siswa. Kelima, dalam persentase hasil kerja di depan kelas lebih banyak didominasi oleh siswa yang berkemampuan tinggi.

Berdasarkan hasil refleksi tindakan yang dilakukan pada Siklus I, maka dilakukan tindakan pada siklus II, tindakan pada Siklus II merupakan penyempurnaan dan perbaikan terhadap kendala-kendala yang muncul pada siklus I. pada Siklus I siswa belum terbiasa dengan kondisi lesson study, karena observer menempati posisi tempat duduk yang seolah-olah mengawasi tindakan-tindakan siswa, olehnya itu diharapkan observer menempati posisi tempat duduk yang baik. Kedua. Dengan berbagai strategi guru berusaha membangkitkan kesadaran dan motivasi siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh, disamping itu senantiasa menguasai RPP yang telah dibuat, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah pada LKS. Ketiga, untuk menangani siswa yang mengganggu temannya dalam mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat dalam LKS dan umumnya siswa ini adalah yang berkemampuan baik, maka siswa yang telah selesai mengerjakan soal ditugaskan untuk membimbing temannya yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan interaksi antar siswa dalam diskusi, dengan memberikan kesempatan bertanya dan menjawab terlebih dahulu, misalnya dengan menunjuk siswa sehingga interaksi tidak hanya terbatas pada siswa yang berkemampuan tinggi. Kelima, dalam presentase hasil kerja, guru mengarahkan agar presentase dilakukan secara bergilir.

Dalam pembelajaran pada siklus II siswa mulai terbiasa dalam mengikuti proses belajar mengajar, mereka tidak merasa terganggu dengan adanya observer ditambah dengan adannya kamera dan handycamp yang merekam aktivitas mereka, ini terlihat dari keantusiasan ssiswa yang setelah diberikan LKS, siswa langsung mengerjakan tugas-tugas pada LKS sesuai dengan petunjuk ditambah lagi adanya audio visual yang ditampilkan oleh guru model yang sangat menarik, Hal nyata yang dapat dilihat sebagai hasil pelaksanaan tindakan Siklus II adalah terjadinya peningkatan motivasi, aktivitas serta hasil belajar siswa. Dari hasil analisis data terlihat bahwa terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa secara kuantitatif maupun secara kualitatif, peningkatan juga terjadi pada hasil belajar mereka, yaitu skor rata-rata hasil belajar siklus I sebesar 72,43 dan Siklus II sebesar 86,93. Dari kondisi ini dapat disimpulkan pada Siklus II sudah memenuhi keberhasilan yang cukup tinggi.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa: (1) impelementasi pemberdayaan guru dalam program lesson study berjalan sesuai dengan perencanaan, (2) impelementasi program lesson study dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa, dan (3) impelementasi pemberdayaan guru melalui program lesson study mendapat tanggapan yang positif bagi siswa dan guru peserta lesson study.

Sebagai tindaklanjut dari hasil penelitian ini dapat dikemukakan saran, yakni sebagai berikut: (1) Diharapkan semua guru matematika SMP di Kota Parepare melaksanakan program lesson study di sekolahnya masing-masing. (2) Diharapkan juga kepada guru matematika lainnya untuk melaksanakan program lesson study dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran dan hasil belajar matematika siswa, (3) Disarankan kepada peneliti lain yang berminat, untuk meneliti lebih lanjut mengenai implementasi pemberdayaan guru melalui program lesson study  dengan tempat dan sumber yang berbeda.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abied. 2010. Impelementasi Pembelajaran Matematika Realistik Setting Koperatif Materi Aritmetika Sosial Pada Siswa kelas VII SMP. Online (http://meetabied.wordprs.com/2010/03/20/implementasi-pembelajaran-matematika-realistik-setting-kooperatif-materi-aritmetika-sosial-pada-kelas-vii-smp/, diakses 23 Desember 2010)

Dahar, 1988.  Teori-Teori Belajar. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti.

Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Depertemen Pendidikan Nasional. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi. Jakarta:Bagian Proyek Pengembangan Sistem dan Pengendalian Program SLTP.

Fathurrohman, Pupuh. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung:Refika Aditama.

Fauzi, Amin. 2002. Pembelajaran Matematika Realistik Pada Pokok Bahasan Pembagian di SD. Surabaya:Tesis Universitas Negeri Surabaya.

Hudojo, H. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud.

Jurnal Pendidikan Matematika. 2007. Surabaya:Program Studi Pendidikan Matematika UNESA

Krismanto,  2003. Beberapa Teknik, Model, dan Strategi dalam Pembelajaran Matematika.  Yogyakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran (PPG) Matematika..

Majid, Abdul. 2005. Perencanaan Pembelajaran.  Bandung: Remaja Rosdakarya.

Marpaung, Y. 2003. Perubahan Paradigma Pembelajaran Matematika di Sekolah. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika di Universitas Sanata Dharma tanggal 27

Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Soedjadi, 2001. “Pembelajaran Matematika Realistik: pengenalan awal dan praktis.” Makalah disampaikan pada seminar Nasional di FMIPA UNESA.

Soedjadi. 2007. Masalah Kontekstual Sebagai Batu Sendi Matematika Sekolah. Surabaya:Pusat Sains dan matematika Sekolah UNESA.

Suradi, 2006. Model Pembelajaran Resik sebagai Strategi Mengubah Paradigma Pembelajaran Matematika di SMP yang Teacher Oriented Menjadi Student Oriented. Makassar: Universita Negeri Makassar.

Tim. 2008. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.  Bandung:Nuansa Aulia.

Wikipedia. 2007. Lesson Studi. Online (http://en.Wikipedia.org/wiki/Lesson-studi, diakses 23 Desember 2010)

Wiriaatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas.  Bandung:Remaja Rosdakarya.

Yherianti. 2010. Bisakah Penelitian Tindakan Kelas dan Lesson Studi digabungkan?.online(http://yherianti.Wordpress.com/2010/09/03/bisahkah-penelitian-tindakan-kelas-dan-lesson-studi-digabungkan/,  diakses 26 Pebruari 2011-02-27)

Zamroni. 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publising.

Zulkardi. 1999. How to Design Mathematics Lessons based on the Realistic Approach?. Online (http://www.geocities.com/ratuilma/rme.html). Diakses: 25 Pebruari 2011.

%d blogger menyukai ini: